kesenian garut

Ketahui 4 Kesenian Garut yang Jarang Diketahui

Posted on

Kabupaten Garut termasuk bagian dari Provinsi Jawa Barat yang dikenal sebagai Tanah Pasundan. Garut sendiri cukup populer di kalangan masyarakat, terlebih bagi yang suka traveling mencari hiburan alam. Lebih dari itu, Garut ternyata menyimpan kekayaan budaya yang tak kalah banyak. Apa saja kesenian Garut tersebut? Berikut ulasannya:

1. Badeng

Kesenian Garut ini sudah ada sejak tahun 1800 atau jaman Para Wali. Pada awalnya kesenian ini diciptakan oleh seorang wali penyebar agama Islam yang berasal dari daerah Banten bernama Arfan Nursaen atau lebih dikenal Lurah Acok yang tinggal di Kampung Sanding Kecamatan Malangbong Kabupaten Garut. 

Nah, di Kabupaten Garut, Arfan Nursaen dikenal dengan sebutan Adapun kesenian badeng ini menggunakan 2 angklung kecil bernama roel, 2 dogdog lojor ujungnya simpay lima, dan 7 angklung agak besar yang dibuat dari angklung indung, angklung kentrung dan angklung kecer.

2. Raja Dogar (Rajanya Domba Garut)

Selain terkenal dengan kuliner Garut, hewan ternak Garut cukup populer karena sering digunakan untuk kesenian. Ya, Kesenian Raja Dogar ini diciptakan oleh Entis Sutisna dan pertama kali dikenalkan pada 18 Desember 2005 di Kampung Warung Kaler Desa Cikarag Kecamatan Malangbong Kabupaten Garut.

Namun, saat ini Raja Dogar lebih dikenal dengan Ketangkasan Domba Garut yang mainnya diaplikasikan melalui penampilan seperti Seni Barongsai.

3. Surak Ibra

Seni tradisional Surak Ibra dibuat sebagai bentuk sindiran terhadap Pemerintahan Belanda pada saat itu. Hal ini lantaran Pemerintahan Belanda sempat bertindak sewenang-wenang kepada masyarakat penjajahan di Desa Cinunuk Kabupaten Garut.

Atas dasar inilah tercipta rasa gotong royong bersama untuk mencapai cita-cita bangsa Indonesia. Hal ini sangat berguna untuk menjunjung keadilan dan kebijaksanaan pemerintah secara mandiri dengan penuh semangat kebersamaan.

4. Lais

Seni Lais dilakukan dengan mempertontonkan aksi seorang pemain lais terlatih yang bergelantungan pada seutas tali tambang membentang dan dikaitkan pada dua buah bambu dari ketinggian sekitar 12-13 meter.

Kesenian Garut ini berasal dari wilayah Kampung Nangka Pait, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut, Jawa Barat dan sebagai bentuk pengembangan dari kegiatan sehari-hari dahulu kala yang dilakukan oleh seorang pria bernama Laisan.

Pada era Belanda, Pak Lais sangat pandai memanjat pohon kelapa dan memiliki cara berbeda dibanding orang-orang biasa pada waktu itu. Umumnya orang untuk memanjat beberapa pohon kelapa melakukannya dengan naik dan turun secara berulang kali. 

Namun, Pak Lais hanya memanjat satu pohon saat ingin memetik sejumlah buah kelapa dan hanya perlu menggantung ke pohon lain dengan memanfaatkan pelepah daun di masing-masing pohon untuk berpindah ke pohon lainnya. Karenanya, pohon-pohon yang dipilih harus memiliki jarak berdekatan.

Semakin lama, banyak orang-orang menonton aksi Pak Lais sambil bersorak dengan diiringi nyanyian, tarian, dan tabuhan benda-benda.

Setelah mengetahui 4 kesenian Garut di atas, semoga dapat menambah wawasan Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *